Mush'ab Al Khair

Keikhlasan Mush’ab Al Khair
Namanya Mush’ab bin Umair, pemuda yang tampan dan hidup dalam lingkungan berkecukupan. Ibunya, Khunas binti Malik, amat marah mendengar ke-Islam-anya. Dipenjarakan Mush’ab agar mau meninggalkan Islam. Mush’ab tinggal di penjara sampai ia dapat meloloskan diri untuk ikut hijrah ke Habsyi. Ia tinggalkan segala kemewahan materinya.
Orang memanggilnya Mush’ab Al Khair. Semenjak keluar dari rumah dan bergabung dengan kaum muslimin, berbagai ujian dihadapinya. Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa shahabat yang sedang duduk mengelilingi Rasulullah Saw. Begitu melihat Mush’ab mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sementara beberapa orang shahabat matanya basah. Tidak tega melihatnya. Mereka melihat jubah Mush’ab yang bertambal-tambal, padahal sebelun masuk Islam begitu indah pakaiannya. Bersabda Rasulullah Saw, “Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalakannya semua itu demi cintanya pada Allah dan Rasul-Nya.
Di peperangan Uhud ia terpilih sebagai pembawa bendera. Perang berkecamuk begitu seru, dan kaum muslimin sempat terpukul mundur. Pada saat yang genting seperti ini, Mush’ab tampil ke depan.
Ia acungkan bendera tinggi-tinggi, sementara tangan satunya memainkan pedang dengan lincahnya. Niatnya mengalihkan perhatian musuh dari Rasulullah Saw. Ia ikhlas mengorbankan dirinya.
Ia gugur sebagai syuhada, darahnya membasahi bumi Uhud. Ketika Rasulullah Saw menyaksikan jasadnya, bercucurlah air mata mereka. Berkata Khabbab Ibnul ‘Arrat, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Saw dengan mengharap ridha-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang sudah berlalu sebelum menikmati pahala di dunia ini sedikitpun. Di antaranya Mush’ab bin Umair yang gugur di Perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Saw, “Tutuplah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir.”
Kesaksian saat-saat terakhirnya, kata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil Al ‘Abdari dari bapaknya, ia berkata, “Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaihah namanya., lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab masih mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa orang Rasul”. Maka dipegang bendera dengan tangan kiri sambil membungkuk melindunginys. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan diraihnya ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa orang Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya untuk ketiga kali dengan tombak, dan menusuknya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan benderanya patah....’’’
Ia gugur sebagai syuhada, darahnya membasahi bumi Uhud. Ketika Rasulullah Saw menyaksikan jasadnya, bercucurlah air mata mereka. Berkata Khabbab Ibnul ‘Arrat, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Saw dengan mengharap ridha-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang sudah berlalu sebelum menikmati pahala di dunia ini sedikitpun. Di antaranya Mush’ab bin Umair yang gugur di Perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Saw, “Tutuplah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir.”
Ialah Mush’ab Al Khair. Keikhlasannya berjuang di jalan Allah telah menghantarkan ke syurga yang dijanjikan pada setiap syuhada’. Maka, adakah kecintaan yang lebih tinggi…dari cinta kepada Allah Yang Maha Rahman?
Wallahu a’alamu bish-shawab.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home