(Wal ‘Ashr)
(FOR THE SHAKE OF TIME)
1. Waktu adalah Modal Utama Manusia
(Time Is the Most Capital for All people)
Dari Muadz bin Jabal, bersabda Rasul Saw, “Tidak akan tergelincir kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara : usianya untuk apa dihabiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya darimana ia dapatkan dan kepada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Bazzar dan Thabrani).
Hadist ini menunjukkan kepada kita betapa perhatian Islam kepada masalah waktu begitu besarnya. Sedangkan untuk menegaskan pentingnya waktu, Allah bersumpah di awal-awal surat Makkiyyah dengan berbagai bagian dari waktu.
Perhatikan ayat-ayat sebagai berikut,
“Demi malam,apabila menutupi (cahaya siang), dan malam apabila terang benderang.” (QS. Al Lail (Malam) 92, 1-2).
“Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Adh Dhuha (Waktu Mentari Sepenggalah Naik) 93, 1-2).
“Dan demi shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. AtTakwir (Menggulung) 81, 18).
2. Katarestik Waktu
Waktu memiliki karakter yang menjadi keistimewaaannya, sehingga kita harus berhati-hati dalam memanfaatkannya. Di antaranya karakteristik waktu yang mesti diketahui adalah :
1. Waktu selalu berlalu
(Time will be away)
Waktu senantiasa berjalan tanpa mempedulikan keadaan kita. Ia berlalu terus secara alami dan pasti. Pada saat maut mendatangi manusia , maka ikatan waktu dan hidup terputus. Seolah-olah hidup ini hanya sekejap mata sebagaimana yang kita alami ketika hari sudah berakhir. Tampak bagi kita bahwa waktu itu berlalu dengan cepat.
“ Dan (ingatlah) akan hari yang (di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan.” (QS. Yunus (Nabi Yunus) 10, 45).
Demikian waktu, tidak pernah menunngu siapapun.
2. Waktu tidak dapat diganti dan tidak kembali lagi
(Time can’t be changed and not return)Hasan Al Bashri pernah berkata mengenai sifat waktu dalam kata-katanya, “Tidak ada sehariipun yang merekah fajarnya, melainkan ia memanggil-manggil, “Hai Anak Adam, aku adalah makhluk baru dan atas ‘amal perbuatanmu aku menjadi saksi. Oleh karenanya ambillah bekal dariku. Sesungguhnya aku apabila telah berlalu tak akan pernah kembali lagi sampai hari kiamat.”
Waktu kita, hari ini dan yang lalu tidak akan pernah kembalai lagi. Oleh sebab itu penyesalan manusia di hari akhir sudah terlambat tiada guna. Ia tidak akan dikembalikan ke dunia untuk mengulanginya.
“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (‘amal shalih) untuk hidupku ini.” (QS. Al Fajr (Fajar) 80, 23-24).
3. Milik Manusia yang Paling Berharga
(The most value people’s have)
Oleh karena waktu berjalan dengan cepat dan yang lalu tidak dapat kembali lagi, maka waktu merupakan milik yang paling berharga dari apapun juga. Asy Syahid Hasan Al Bana pernah mengatakan, “Ia adalah kehidupan. Kehidupan manusia tiada lain adalah waktu yang dihabiskannya sejak kelahiran hingga dating maut.”
3. Penyakit Pembunuh Waktu
(The Killer Illness of Tme)
Setelah memahami karakteristik waktu, kita harus mewaspadai ragam penyakit pembunuh waktu, diantaranya adalah :
1. Lalai
(negligent)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereak lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf (Tempat Tertinggi) 7, 179).
Penyakit ini menimpa hati dan akal manusia sehingga hilanglah kesadaran terhadap waktu (yang selalu berjalan itu). Mereka lalai dan mengira akan hidup terus dan ada waktu untuk bertaubat dibagian terakhir kehidupannya. Mereka menganiaya dirinya sendiri.
2. menunda-nunda waktu (taswif)
(to postspone of time)
Penyakit ini tak kurang berbahayanya. Jika terbiasa untuk menunda-nunda pekerjaan, “Nanti saja !”...”Besoklah !”…maka ia telah dijebak syaithan. Salah satu aksi syaithan adalah menyesatkan manusia adala dengan membisikkan “Saufa (nanti akan…besok akan…) !”.
Hasan Al Bashri berkata, “Jauhilah olehmu menunda-nunda, karena engkau bersama harimu ini bukanlah hari esokmu. Apabila engkau berada di hari ini, jadilah engkau di hari esokmu seperti keadaanmu di hari ini. Dan jika engkau tidak memiliki hari esok maka engkau tidak mmenyesali kelalaianmu di hari ini.”
Menunda-nunda waktu akan memperburuk keadaan
Renungkanlah beberapa hal berikutnya ini :
Pertama, kita tidak dapat menjamin bahwa besok kita masih hidup. Tidak seorangpun mampu memastikan hidupnya sampai besok. Sementara maut adalah ketentuan yang sudah pasti.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya…” (QS. Al Munafiqun (Orang-orang Munafik) 63, 11).
Kedua, gangguan dapat datang dengan tiba-tiba seperti sakit, musibah dan kesibukan-kesibukan yang baru. Rasulullah Saw berwasiat, “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara (yang lain), hidupmu sebelun datang kematianmu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kesenggangganmu sebelum datang kesibukannmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kekayaanmu sebelum datang kefakiranmu.” (HR. Ahmad).
Ketiga, bagi setiap waktu ada aktifitas dan setiap waktu ada kewajibannya sendiri. Tidak satu celah waktu yang kosong dari pekerjaan dan aktifitas. Umar bin Abdul Aziz berkata ketka diminta menangguhkan pekerjaannya, “Pekerjaan satu hari saja sungguh melelahkan. Bagaimana jika pekerjaan dua hari menimbuniku ?”
Keempat, bahwa bekerja adalah kebutuhan manusia. Oleh sebab itu hanya manusia yang bekerja sajalah yang memiliki hak untuk hidup. Sedangkan kerja yang dituntut dari manusia adalah sepanjang waktu (hidup) yang dimilikinya.
Kelima, bahwa menunda dan mengakhirkan pekerjaan akan menambah perilaku buruk kita. Padahal perilaku buruk sulit untuk dirubah. Akibatnya hidup akan banyak menuai bencana dan kesulitan.
Demikian banyak mudharat dan mafsadat yang ditimbulkan oleh menunda-nunda waktu, maka hendaknya setiap diri bersegera melakukan kebaikan-kebaikan sesuai potensinya. Bersegeralah !
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dan Rabbmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran (Keluarga Imran) 3, 133).
Sedang kemalasan adalah salah satu ciri orang munafiq. Oleh karena Rasulullah Saw berdo’a, “Ya Allah ! Aku berlindung kepada-Mu dari derita dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan…”
Huwallahu a’lam bi showwab.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home