The meaning of ikhlas
MA’NA IKHLASH
Pengertian Ikhlas
Ikhlash berarti bersih dari segala noda, menjadikan murni, tanpa noda sedikitpun. Orang yang ikhlash ialah yang menjadikan dien (agama)-nya bagi Allah semata. Di dalam ‘amal tidak disertai riya’ (pamer), bather (angkuh), dan tidak menghalangi manusia dari jalan Allah ( yashudduuna ‘an sabilillah).
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi orang dari jalan Allah…” (QS. Al Anfal (Pampasan Perang) 8, 47).
Pengertian ikhlash secara syar’i adalah niat mencari ridlo Allah semata dengan ‘amal yang murni dari segala perusaknya.
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketha’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…(QS. Al Bayyinah (Bukti) 98, 5).
Syaikh Hasan Al Banna menegaskan, “ Ikhlash ialah seorang muslim menunjukkan segala perkataan, ‘amal dan jihadnya semata-mata mencari ridha Allah dan ganjaran baik, tidak memandang keuntungan duniawi… Oleh karena itu ia akan menjadi manusia pembela cita-cita dan aqidah, bukan kepentingan (interest) pribadi.”
“ Agar Ia menguji siapakah di antara kamu yang paling baik ‘amalnya….” (QS. Huud (11), 7).
Fudha’il bin ‘Abbas menafsirkan “ahsanu ‘amala” sebagai ‘amal yang paling ikhlash. Ia berkata, “ Sesungguhnya ‘amal jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka ‘amal tersebut tidak diterima. Dan jika ‘amal tersebut dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlash, inipun tidak diterima. Amal yang diterima adalah ‘amal yang ikhlas dan benar. Ikhlash adalah ‘amal yang semata-mata ditujukan kepada Allah. Sedang ‘amal yang benar adalah jika sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian Fudhail membaca ayat (yat.),
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan ‘amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya.” (QS. Al Kahfi (Gua) 18, 110).
Kedudukan dalam syari’at Islam
‘Ibadah adalah kewajiban bagi setiap makhluk terhadap Khaliq, karena manusia (dan jin) diciptakan memang untuk ‘ibadah. Dalam rangka ‘ibadah ini, ikhlash mempunyai kedudukan penting karena menentukan diterima tidaknya ‘ibadah seseorang. Adapun kedudukan ikhlash dalam syari’at Islam ialah,
1. Syarat syahnya ibadah
Banyak nash yang menunjukkan tentang hal ini
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlash menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan iapun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”(QS. An Nisaa’ (Wanita) 4, 125)
Rasulullah menjelaskan dengan sabdanya, “Sesungguhnya syahnya segala ‘amal itu dengan niat, dan bagi setiap orang itu tergantung menurut apa yang diniatkannya…”(Mutafaqqun ‘alaih).
2. Hakikat Islam yang sangat penting
“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal shalih dan janganlahj ia menyekutukan seorangpun dalam ber’ibadah kepada Rabb-Nya.” (QS. Al Kahfi (Gua) 18,110).
Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa ‘amal shalih, baik yang wajib maupun sunnah, harus diiringi niat ikhlash karena Allah semata. “ Jika ‘ilmu tanpa ‘amal itu berguna, maka mengapa Allah mencela para rahib ahli kitab ? Dan jika ‘amal tanpa ikhlash itu berguna, mengapa Allah mencela munafiqiin ?”, kata beliau.
Mencapai Derajat Ikhlash ?
Untuk mencapai perlu usaha sungguh-sungguh berupa :
1. Meluruskan niat
Masalah ini paling mendasar. Oleh karenanya harus senantiasa dijaga agar seluruh niat tidak melenceng dari tujuan ‘ibadah itu sendiri.
2. Menjaga ‘ibadah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Syirik khafi (halus) akan terhindar dari orang-orang yang dirahmati Rabbnya. Sedangkan cara menghindar syirik tersebut adalah dengan mengikhlaskan hanya kepada Allah. Ikhlash murni ini tidak akan terwujud kecuali dengan zuhud. Sedangkan zuhud tidak akan tercapai kecuali dengan taqwa. Dan taqwa akan terwujud kalau mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah dengan konsekuen.”
3. Membuktikan cinta (mahabbatullah)
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. Katakanlah, “Tha’atlilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran (Keluarga ‘Imran) 3, 31-32).
4. Bersungguh-sungguh dalam tha’at
“Dan orang –orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al ‘Ankabut (Laba-laba) 29,69).
Demikianlah beberapa jalan, marilah berusaha mencapainya.
Wallahu a’lamu bish-shawwab.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home